Iklan

Iklan

,

Iklan

Festival Selayar Tempo Doeloe 2026: "Merawat Pangan Lokal, Menjaga Masa Depan"

Minggu, 23 Agustus 2026, Agustus 23, 2026 WIB Last Updated 2026-08-24T03:05:24Z


Digelar 2 Hari di Dusun Tajuiya, Festival Angkat Kembali Tradisi Agraris dan Kuliner Lokal Selayar



KEPULAUAN SELAYAR, SUARATIPIKOR.COM — Nuansa masa lalu hidup kembali di Dusun Tajuiya, Desa Bungaiya, Kecamatan Bontomate, Kabupaten Kepulauan Selayar. 


Festival Selayar Tempo Doeloe 2026 dengan tema "Merawat Pangan Lokal, Menjaga Masa Depan" digelar selama dua hari, 22-23 Agustus 2026.


Festival yang digagas Komunitas Sileya Peduli bersama warga setempat ini diprakarsai oleh Ahmad Riyadi yang akrab disapa Bung Adi.


Berbagai kegiatan disajikan, mulai dari pameran pangan lokal, atraksi budaya agraris, mini workshop, hingga beragam lomba khas tempo doeloe.


Hadirkan Dialog dan Apresiasi dari Pemda


Acara ini dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan / Disparbud Kabupaten Kepulauan Selayar, Nur Ihsan Chairuddin, S.S, *Wakil Rektor ITSBM Selayar, Dr. Muhammad Ihsan Maro, dan Pembina Komunitas Sileya Peduli yang juga Tokoh Pemuda Selayar, Daeng Marowa. 


Turut hadir pula Pemerintah Desa, BPD, Karang Taruna, komunitas pemerhati budaya dan seni, serta seluruh warga Dusun Tajuiya.


Puncak acara pada Minggu, 23/8/2026, diisi dengan dialog interaktif yang menghadirkan tiga narasumber: Mukti Munir, Jurnalis Senior dari luar daerah; Dr. Muhammad Ihsan Maro; dan Daeng Marowa. Diskusi dipandu langsung oleh Ketua Komunitas Sileya Peduli, Ahmad Riyadi selaku moderator. 


Dialog membahas luas tentang manfaat pangan lokal dari aspek kesehatan, ekonomi, sosial, dan budaya.


"Pelestarian Budaya Tidak Harus di Ruang Formal"

Dalam sambutannya, Kadis Disparbud Nur Ihsan Chairuddin menegaskan bahwa Selayar memiliki kekayaan alam dan budaya yang besar.


"Sebagai daerah kepulauan, kita tidak hanya memiliki keindahan pantai dan laut, tetapi juga tradisi, kesenian, kuliner, serta kehidupan masyarakat yang menjadi identitas daerah. Potensi ini harus terus kita rawat, kembangkan, dan perkenalkan," ujarnya.



Ia menilai Festival Selayar Tempo Doeloe menjadi contoh bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu dilakukan di ruang-ruang formal.


"Melalui festival ini, kita tidak hanya berbicara tentang budaya, tetapi juga menghidupkan budaya itu sendiri. Pelestarian kebudayaan butuh keterlibatan semua pihak: masyarakat, komunitas, tokoh adat, pelaku seni, UMKM, akademisi, hingga generasi muda. Kolaborasi inilah yang harus terus kita bangun," tutup Ihsan.


Menghidupkan Kembali Cinta pada Masa Lampau

Ketua Pembina Komunitas Sileya Peduli, Daeng Marowa mengatakan, festival ini bertujuan untuk mengenang kembali sejarah dan budaya lokal Selayar.


"Festival Selayar Tempo Doeloe atau 'Festival Selayar Kembali' ini adalah yang pertama kali digelar di Selayar pada tahun 2026. Tujuannya untuk menumbuhkan kembali rasa cinta masyarakat terhadap masa lampau," tuturnya.


Sepanjang acara, seluruh suasana dibuat bernuansa tempo doeloe. Mulai dari penataan lokasi, dekorasi setiap stand, hingga sajian berbagai hasil pangan lokal yang ditampilkan.


Laporan: Supardi

Iklan