Nasional

Daerah

Popular Posts

Pemerintahan

Recent Posts

Kasus Mayat Terbakar di Maros, Ternyata korban Pembunuhan, Pelakunya 9 Orang



MAKASSAR - Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan menggelar Press Konference terkait pengungkapan kasus penemuan mayat terbakar di Kampung Tompo Ladang, desa Padaelo kec. Mallawa, Kab, Maros, Sulsel yang terjadi pada hari Jumat (11/6) lalu. 

Kegiatan Press Conference ini dipimpin langsung oleh Kapolda Sulsel Irjen Pol Merdisyam  bersama  Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol E. Zulpan dan Direskrum Polda Sulsel, Kabid Dokkes dan Ka labfor Polda Sulsel dengan menghadirkan Pelaku dan Barang Bukti yang digunakan menghabisi korbannya.

Dihadapan para media, Kapolda Sulsel menjelaskan identitas korban yakni seorang lelaki R (20) beralamat di Tamalate No. 3 Kel.Kalegowa Somba Opu Gowa. Kapolda Sulsel juga mengungkap para pelaku berumlah 9 orang yaitu MA(19), DAS(19), FS(16), seorang wanita H (23), AP(19), TH(22), AI(17), MAN (16), dan Dion masih DPO.

Adapun Motifnya kata Kapolda Sulsel, karena salah satu Pelaku, MA cemburu dan sakit hati karena korban mempunyai hubungan sesama jenis dengan Lelaki lain.

"Para pelaku ada 9 orang dan berhasil ditangkap  8 orang sementara 1 orang masih DPO," ujar Merdisyam, Kamis (17/07/2021).

Merdisyam menuturkan kronologi  terungkapnya kasus ini yaitu pada TKP penjemputan,  Senin (7/07) pukul 09.00 Wita, Pelaku MA dan Korban Rian berkomunikasi melalui FB, pelaku mengajak Korban bertemu di hotel Wisata Jl Bau Makassar, korban setuju dengan syarat, Pelaku ijin ke kakak korban dengan alasan  hendak ke Malino.

Kemudian saksi AI menjemput Pelaku, selanjutnya dengan motor menuju rumah korban di Jl Pallantikang Gowa, mereka meminta  izin ke Reza, kakak korban untuk dibawa ke Malino. 

Dari rumah korban mereka menuju ke hotel Wisata II dengan motor, dimana korban di posisi paling belakang, dalam perjalanan pelaku mengambil Hp Korban dan melihat isi percakapan korban di WA dab FB dan berakibat pelaku MA cemburu 

Lalu, Pelaku, saksi dan korban Tiba Di TKP hotel Wisata Jl H. Bau Makassar,pukul 21.00 Wita, namun Saksi AI kembali ke tempat kerjanya, pelaku MA, DAS dan korban masuk ke hotel, dan menuju kamar 405, dan disana sudah ada Dion dan 2 orang laki laki, 

Esoknya Selasa,(8/07) pukul  02.00 Wita saat pelaku Dion, bersama 2 orang lelaki temannnya tertidur, korban dan MA melakukan hubungan seksual sesama jenis, kemudian Pukul 05.00 Wita,  terjadi pengeroyokan terhadap korban oleh pelaku MA dan rekan- rekannya

Sekitar pukul 09.00 Wita,  korban dibawa pelaku MA, Dion, DAS, ke rumah pelaku H di Jl. Sungai Limboto Makassar dengan taxi online, disana, korban mencoba melarikan diri, dan membuat pelaku MA marah dan menganiaya korban dengan tangan kosong dan ikat pinggang.

Pada hari Kamis 10 Juni 2021, 06 00 Wita , korban meninggal Dunia, mengetahui hal tersebut para pelaku berencana membawa jasad korban ke Sulteng, karena masalah biaya dan jauhnya lokasi, para pelaku memutuskan membuang jasad korban di Camba Maros.

Pada Jumat tanggal 11 Juni 2021 Pukul 04.00 Wita , dengan menggunaan mobil rental merk Mobilio Para pelaku  membawa jasad korban ke Camba, sebelumnya,  mereka singgah di Alfamidi, membeli 2 botol Air 1.500 Ml., dan botolnya diisi 2 bensin yang dibeli di Moncong Loe.

Setiba di Kampung Tompo Ladang Mallawa Maros, para pelaku menurunkan Jasad korban di pinggir jalan dan membakarnya, para pelaku kemudian  kembali ke rumah H.  Pada pukul 11.30 Wita pelaku DAS sempat mengecek kembali ke lokasi mayat.

Saat ditemui, Kabid Humas Poda Sulsel Kombes Pol E. Zulpan juga menerangkan Modus operandinya pelaku, yaitu menemi kornban di rumahnya di Gowa lalu dibawa dihotel wisata Makassar , dimana pelaku lainnya, DAS, AP TH, AI, dan MAN sudah berada di salah satu kamar di hotel tersebut.
 
Kemudian MA berhubungan seksual sesama jenis dengan korban, kemudian pelaku lainnya DAS, AP TH, AI, dan MAN beralibi korban adalah pelaku pencurian Hp di Hotel Wisata, lalu mereka melakukan kekerasan terhadap korban, hingga korban pendarahan di kepala, wahjah dan badan, setelah itu korban dibawa ke rumah H, di Jl Sungai Limboto, lalu disekap, dan pelaku MA kembali memukul korban dengan tangan kosong dan ikat pinggang hingga meninggal dunia.

“Setelah korban meninggak dunia pelaku MA DAS, H, FS sepakat  menghilangkan jejak korban di daerah Camba Maros dan membakar jasad korban,”ungkap Kabid Humas. (Red)

Editor: A2W

Wempi Ramandei dulu bermimpi jadi dokter, kini jadi tentara



PAPUA - Dulu bermimpi jadi dokter, kini menjabat Kasrem 172/Praja Wira Yakti(PWY) di Kota Jayapura, Papua. Itulah sosok Wempi Ramandei yang tak punya mimpi menjadi tentara. Dia justru bercita-cita menjadi dokter.

Namun siapa sangka arah kemudi hidup anak ketujuh dari sembilan bersaudara kelahiran Serui, Kepulauan Yapen, Papua ini, kemudian berubah. Jalan Tuhan membawanya menjadi prajurit baret merah berpangkat letnan kolonel. Pas dengan moto hidupnya, “Hati manusia memikirkan jalannya, tapi Tuhanlah yang menentukan arah jalannya”.  

Ramandei menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah, SD sampai SMA, di Serui dan lulus tahun 1991. Tak sedikit pun bercita-cita menjadi tentara. Dia justru bercita-cita menjadi dokter. Kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan kemudian mengurungkan niatnya menjadi dokter. 

Ketertarikannya pada korps berbaju hijau bermula ketika masih duduk di kelas 2 SMA jurusan IPA dengan spesialisasi Biologi. Ketika itu, Bapak Yohanes Senggi sering bertandang ke rumahnya. Keseringannya menemui tentara berpangkat letnan dua itu di rumahnya, mendengarkan arahan beliau, membuat benih-benih menjadi tentara bertumbuh. Dia pun bertekad mendaftar masuk taruna.  

Bapaknya hanya lulusan Sekolah Rakyat di Kota NICA—kini Kampung Harapan, Sentani, Kabupaten Jayapura, dan mulai bekerja pada sekolah pertanian pada zaman Belanda yang kemudian menjadi pegawai negeri. Karena kondisi tersebut, dan ekonomi keluarga yang pas-pasan, dia sadar betul bahwa menjadi dokter hanya sekadar impian.

“Karena alasan ekonomi itulah saya terpaksa harus daftar ke taruna pada saat itu. Tahun 1991. Tapi mungkin belum waktunya. Tahun 1992. Kemudian pendidikan 3 tahun, lulus tahun 1995. Itulah yang membuat saya tertarik karena senior saya,” ujar Ramandei.

Dia ternyata memiliki cerita unik ketika lulus taruna. Setelah taruna dilakukan pendidikan dasar-dasar kecabangan. Para infantri, sarjab, kemudian mengikuti latihan terjun. Setelah sarcab itu terakhir ada latihan terjun penutupan di Batujajar. Di situlah seleksi. Sebanyak 130-an perwira infantri melakukan latihan penerjunan. Saat itulah Kopassus menyeleksi perwira. Dari 130-an tersisa 22 orang dan hanya 15 orang yang dinyatakan lulus. 

Ada satu hal yang menurutnya aneh. Pada saat seleksi biasanya para taruna menghadap atasannya. Letjen TNI Prabowo ketika itu. Ramandey muda justru hanya diberikan perintah untuk melaksanakan peraturan baris-berbaris: hadap kanan, hadap kiri, dan balik kanan. Hanya begitu saja terus disuruh keluar. Tidak menghadap ke tester perwira-perwira yang lain. Tidak ada wawancara, lalu dia disuruh keluar ruangan. 

“Saya merasakan ada yang aneh, tidak biasa. Setelah itu kami selesai tes, kemudian latihan penerjunan juga selesai kami kembali lagi ke pusdik. Begitu mau penutupan dibacakan skep penempatan itu kami ada 15 orang,” katanya.

Setelah penutupan pendidikan kecabangan, dia mengingat waktu itu hari Jumat. Setelah itu, beliau ke rumah orang tuanya di Jakarta. Namun dirinya kaget begitu didatangi sejumlah prajurit Kopassus dan memberitahukan bahwa tiga hari berikutnya, atau Senin pekan depan, akan dilakukan pembukaan pendidikan, sehingga Ramandey harus kembali ke Batujajar di Jawa Barat untuk mengikuti pendidikan selama tujuh bulan hingga selesai tahun1996. Pada akhir 1996 dia bersama teman-temannya langung diberikan surat penempatan. 

Setelah mengawali karier dari letnan dua sampai kapten, Ramandei ditempatkan di Dok Dua, sekitar 10 tahun. Setelah di Kopassus selepas pendidikan, karena kekurangan jabatan, karena senior-senior lulus 1994, 1993, itu setelah mereka selapa, semua kembali. 

Pada tahun 2003 itu selapa paling banyak, selapa cuci gudang. Sebagian besar mereka keluar sehingga tahun 2004 dia dipindahkan ke Rindam XVII/Cenderawasih sebagai Wadan Secata. 

Sebenarnya dia tak ingin kembali ke Papua selepas pendidikan, karena ingin mencari pengalaman, sehingga sewaktu mengisi angket dia meminta untuk ditempatkan di Sumatra, Kalimantan, Jawa atau Sulawesi. Tapi waktu itu pilihan terberat jatuh kepada pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera. Tapi setelah selesai pendidikan ditarik kembali ke Tanah Papua. 

Dia kaget ketika sampai di Tanah Papua karena ternyata Herman Asaribab (mantan Pangdam XVII/Cenderawasih) bertugas di Kodam dan Hamdan Ali Bogra (mantan Pangdam XVIII/Kasuari), serta Yobe di Timika. Putra-putra daerah ini pulang kampung. Itu artinya kepulangan mereka untuk bertugas di Bumi Cenderawasih merupakan keinginan angkatan darat, sehingga harus diterima dengan ikhlas. 

Di Kodam XVII/Cenderawasih Ramandei pun menjabat sampai berpangkat letkol, mulai kapten pindah dan sekolah lagi hingga pangkat Kolonel menjabat sebagai kepala staf di Korem 172/PWY. 

“Saya Dandim di Kaimana (2016-2017). Jadi, itulah kira-kira pengalaman karier saya,” ujarnya. 

Dia pun mulai belajar menjadi pemimpin ketika beberapa bulan kemudian komandannya pindah. Tidak ada pengganti. Di situlah dia belajar untuk mulai memimpin, artinya memposisikan diri sebagai komandan. 

Itu hal yang sulit baginya, karena memimpin organisasi tidak mudah, apalagi di lembaga pendidikan tentara. Kita harus pahami benar, harus bisa mengatur dengan baik supaya pendidikan berjalan tanpa masalah. Sekitar enam bulan dia tidak ada elhansat dan 2004-2007 di secata. 

Pujaan Hati

Pada suatu ketika di rumah Ramandey, Grup 2 Solo, Jawa Tengah, digelar ibadah. Seorang pelayan Tuhan berpangkat letnan kolonel memimpin ibadah. Sang Pelayan biasanya membawa serta anak-anaknya, termasuk Livina Naragari, yang kelak memikat hati pria asal Serui, Ramandei. 

Tanpa basa-basi, Ramandei memberanikan diri berkenalan dengan gadis NTT berdarah campuran Sabu-Manado ini. Keesokan harinya dia langsung ke rumah bapak mertua, untuk mengutarakan niatnya mempersunting Ina Sabu Nona Flobamora, sang pujaan hati. Momen ini terkesan lucu dan langka plus unik baginya.

“Saya ketemu hari ini besok saya langsung ke rumah. Saya tidak ajak kemana dulu, ngobrol, tapi saya langsung ke rumah. Jadi hari ini ketemu, kenalan, besok saya langsung ke rumah,” katanya sembari memperkenalkan bahwa mertua lelakinya seorang tentara dan ibu mertua seorang guru.

Dari Pegunungan Bintang Hingga Padang Bulan 

Tahun 1997 dia bertugas di perbatasan RI-PNG di Pegunungan Bintang (Kiwirok, Oksibil, Okbibab,lalu  pindah lagi ke Batom), dan kembali tahun 1999.  Hingga kini, sekitar sebulan yang lalu dipercayakan menjadi Kasrem 172/PWY di Padang Bulan, Kota Jayapura. Ini merupakan kepercayaan untuk mengemban tugas dan tanggung jawab membantu Danrem dalam mewujudkan tugas pokok dari komando atas. Dalam hal ini mengkoordinasi staf. 

Sebenarnya kepala staf hanya melanjuti keinginan staf dengan mengkordinasi para staf. Sebagai kepala dia akan melanjutkan kebijakan pimpinan, terutama Danrem, dalam pembinaan, baik secara ke dalam, maupun ekternal atau hal-hal yang berhubungan dengan masyarakat. Semua diatur dalam program. 

“Satu hal yang (membuat) saya tertarik dengan apa yang diceritakan oleh Danrem, hentikan pertumpahan darah, artinya ini juga merupakan turunan dari almarhum kita Bapak Herman Asaribab melayani dengan hati,” katanya beberapa waktu lalu di Jayapura.  

Dia tak menampik akan membantu penyelesaian konflik di Tanah Papua dengan pendekatan hati, dengan mengkoordinasi semua staf. Tugas ini dianggap strategis, sebab tugas-tugas dari Korem cukup banyak, baik menyangkut tugas internal, maupun eksternal. 

“Artinya kita berhadapan dengan masyarakat kita yang, ya, saya boleh katakan masih banyak yang tertinggal, terutama dengan pendidikan, sehingga ini tugas saya dalam menjabat sebagai kasrem melaksanakan tugas-tugas tambahan,” katanya. 

“Kami tidak keluar sebenarnya. Kalaupun ada kegiatan keluar, itu atas perintah, karena kepala staf sebagian bergulir untuk ke dalam,” lanjutnya. 

Pembinaan ke dalam tentu dihadapkan dengan banyak persoalan, terutama membinal dan mendidik mental prajurit. Di Tanah Papua, kuota prajurit lebih besar bagi anak asli Papua dibandingkan penduduk Papua lainnya atau 80:20.

Tugas Ramandei dan jajaran adalah memastikan bahwa mental para prajurit dibina dan dibentuk agar tidak menjadi beban bagi mereka sendiri. Kuota 80:20 memang terasa berat bila komandan tidak rutin memberikan arahan. Ini kita tugas staf untuk mengkordinasi. Pada saat pandemi COVID-19 seperti ini pihaknya melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan intens. 

Pembinaan-pembinaan ini dilakukan secara interen untuk prajurit-prajurit itu, tidak hanya kepada putra daerah, tetapi juga prajurit-prajurit lainnya.

“Ketika sudah jadi prajurit, terus, desersi, ini yang sangat menyolok. Jadi, tugas saya sebagai kepala staf menjaga kemungkinan itu, apa keinginan komandan, komandan mau begini kita laksanakan. Memang kita fokus ini karena ini menjadi perhatian juga di TNI maupun Angkatan Darat karena ada sedikit kenaikan untuk pelanggaran disersi, kalau yang saya tahu,” katanya. 

Dia berpesan kepada putra-putri Papua yang bertekad menjadi TNI/Polri untuk menjadi orang beriman. Mereka harus mempunyai moral yang baik. Moral yang baik ditentukan oleh kualitas imannya. 

“Dasarnya itu. Itu timbul dari keluarga, lingkungan sekitar,” kata bapak dua putra ini.

Wempi Ramandei, adalah the next star from Papua yang diprediksikan bersinar dari ufuk timur Indonesia ditubuh TNI AD. (Alfian/TM Rosario)

Editor: Rahman

Pangdam XIV/Hasanuddin : Prajurit yang terbukti terlibat dalam percaloan penerimaan Prajurit akan ditindak tegas



MAMUJU -  Upacara bendera tujuh belasan bulan Juni tahun 2021 dilaksanakan dilapangan Tammajarra Korem 142/Tatag, bertindak selaku Irup Kasilog Korem 142/Tatag Kolonel Czi Bambang, sedangkan Komandan Upacara Kapten Inf. Bahtiar. Kamis ( 17/06/21 )
Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Mochamad Syafei Kasno, S.H dalam sambutan tertulisnya menekankan tentang penyalahgunaan Narkoba karena sampai saat ini masih menjadi perhatian serius dilingkungan TNI Angkatan Darat, sehingga kedepan akan dilaksanakan tes urine secara rutin guna mendeteksi penyalahgunaan Narkoba dikalangan Prajurit dan PNS Kodam XIV/Hasanuddin.

" Jika ada anggota yang kedapatan menggunakan Narkoba, maka personel tersebut langsung diproses secara hukum kemudian dipecat dari kedinasan, baik Militer maupun PNS " Kata Pangdam XIV/Hasanuddin.

Ditandaskan pula bahwa hukuman seperti ini merupakan bukti komitmen TNI AD termasuk Kodam XIV/Hasanuddin dalam berperang melawan narkoba, sekaligus memberi efek jera dan menjadi peringatan bagi Prajurit lain supaya tidak melibatkan diri dalam kasus Narkoba.

Pada bagian lain Pangdam XIV/Hasanuddin menekankan terkait pelaksanaan werving rekruitmen atau penerimaan Prajurit TNI AD, agar Prajurit Kodam XIV/Hasanuddin  tidak menjadi calo werving karena hal tersebut merupakan pelanggaran hukum yang sanksinya cukup berat.

" Perlu Saya tegaskan, apabila ada oknum Prajurit Kodam XIV/Hasanuddin yang terbukti terlibat dalam percaloan penerimaan prajurit, akan ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku, karena hal tersebut sangat menodai citra TNI AD "  tegas Pangdam.

Hal ini juga menghindarkan berbagai image dikalangan masyarakat yang menganggap bahwa untuk masuk atau menjadi  Prajurit TNI, harus membayar sejumlah uang, ini yang harus dihindari oleh segenap pihak dalam proses rekruitmen.

" Setiap pelaksanaan penyaringan Calon Prajurit TNI AD, harus benar - benar dilakukan secara selektif, obyektif dan transparan " terang Pangdam.

Dalam amanat tertulisnya, Pangdam XIV/Hasanuddin juga mengingatkan perkembangan kasus covid 19 semakin meningkat, sehingga sangat perlu untuk terus mewaspadai  terjadinya penularan covid 19 terhadap personel Kodam XIV/Hasanuddin beserta keluarganya.

" Tetap ikuti protokol Kesehatan dalam setiap kegiatan, baik disatuan maupun ditempat lain guna menghindari munculnya cluster baru dikalangan Prajurit dan PNS Kodam XIV/Hasanuddin " tutup Pangdam XIV/Hasanuddin dalam amanat tertulisnya. (AH)

Editor: A2W

Personel Korem 141/Toddopuli melaksanakan Upacara Bendera Tujuh Belasan, Begini Amanat Pangdam XIV/Hasanuddin



WATAMPONE - Personel Korem 141/Toddopuli, Balakrem Beserta PNS Korem melaksanakan Upacara Bendera Tujuh Belasan Bulan Juni.
Dengan Irup Danrem 141/Tp Brigjen TNI Djashar Djamil, S.E, M.M bertempat di lapangan Apel Makorem 141/Toddopuli Jln. Jendral sudirman No. 09 Watampone. Kamis 17/06/2021.
Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tanggal tujuh belas setiap bulannya dalam rangka untuk memupuk jiwa kebersamaan dan meningkatkan rasa kejuangan serta rasa cinta tanah air. "Ucapnya.

Sebelum membacakan amanat Pangdam XIV/Hasanuddin Danrem 141/Tp Brigjen TNI Djashar Djamil, S.E, M.M menghimbau kepada seluruh Prajurit dan PNS Korem 141/Toddopuli agar senantiasa tetap menjaga kesehatan di era pandemi sekarang ini. Danrem 141/Toddopuli juga menghimbau kepada seluruh Prajurit agar segera menghimbau keluarga Personel untuk segera melaksanakn Vaksin. "Tuturnya.

Adapun Amanat Pangdam XIV/Hasanuddin yang di bacakan Danrem 141/Tp yang intinya mengingatkan kepada seluruh personel tentang masalah penyalahgunaan Narkoba karena sampai saat ini masih menjadi perhatian serius di lingkungan TNI Angkatan Darat. "Pungkasnya.

Menyikapi hal tersebut, maka kedepan akan dilaksanakan tes urine secara rutin guna mendeteksi penyalahgunaan Narkoba di kalangan Prajurit dan PNS Kodam XIV/Hasanuddin, dan jika ada anggota yang kedapatan menggunakan Narkoba, maka Personel tersebut langsung diproses secara hukum kemudian dipecat dari kedinasan, baik Militer maupun PNS."Tegasnya.

Sampai detik ini, tak bosan-bosannya saya ingatkan, bahwa perkembangan kasus Covid-19 pasca Lebaran semakin meningkat. Oleh karena itu, saya tekankan agar terus mewaspadai terjadinya penularan Covid-19 terhadap Personel Kodam XIV/Hasanuddin beserta keluarganya. Tetap ikuti protokol kesehatan dalam setiap kegiatan, baik di satuan maupun di tempat lain guna menghindari munculnya cluster baru di kalangan Prajurit dan PNS Kodam XIV/Hasanuddin. "Tambahnya.

Turut hadir pada kegiatan tersebut. Kasrem 141/Tp Kolonel Inf Heri Purwanto, S.E, Para Kasi Kasrem 141/Toddopuli, Para Pasi Korem 141/Tp, Para Dan Kabalakrem 141/Tp.(*)

"Penerngan Korem 141/Toddopuli,
Editor: A2W

Kembali Berikan Penyuluhan Hukum, Kini Hukum Divisi Infanteri 2 Kostrad Keliling Satuan Jajaran Brigif Mekanis Raider 6/TSB



SOLO – Hukum Divisi Infanteri 2 Kostrad pada Triwulan II ini kembali melaksanakan penyuluhan hukum di satuan jajaran Brigif Mekanis Raider 6/Tri Sakti Balajaya yang dilaksanakan mulai tanggal 14 s.d 16 Juni 2021 kepada seluruh Anggota dan Persit KCK, Solo (16/6).

Kali ini, Tim penyuluhan hukum yang dipimpin langsung oleh Pakum Divif 2 Kostrad Mayor Chk Eka Yudha Kurniawan, S.H. dan di dampingi oleh Kaur Dukungan Hukum (Dukkum) Kapten Chk Arie Widhi Atmoko, S.H., M.H. beserta anggota staf Hukum Serda Nanda Fransiska dan Serda Viky mengawali kegiatan penyuluhannya di Batalyon Infanteri Mekanis Raider 412/Bharata Eka Sakti yang bermarkas di Purworejo, Jawa Tengah.

Penyuluhan Hukum dengan mengangkat tema "Melalui Penyuluhan Hukum Kita Tingkatkan Disiplin dan Taat Hukum Untuk Mengurangi Pelanggaran Hukum di Satuan" selanjutnya dilaksanakan di Yonif MR 411/Pandawa hari Selasa tanggal 15 Juni 2021, dan hari berikutnya melaksanakan penyuluhan hukum di  Yonif MR 413/Bremoro pada tanggal 16 Juni 2021.

Kegiatan penyuluhan hukum merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh Staf Hukum Divisi Infanteri 2 Kostrad setiap tahunnya kepada satuan-satuan jajaran Divisi Infanteri 2 Kostrad. Kegiatan kali ini merupakan bagian dari pelaksanaan Program kerja pada Triwulan II TA 2021.

"Kami melaksanakan penyuluhan ke satuan-satuan jajaran dengan tujuan untuk memberikan pemahaman kepada Prajurit dan Persit tentang hukum, sehingga diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang hukum yang berlaku bagi seorang Prajurit secara khusus (Lex Specialis) maupun yang berlaku secara umum (Lex Generalis)”, terangnya. 

Lanjutnya dikatakan, “Menurut saya seorang prajurit harus mengerti dan memahami aturan-aturan atau norma-norma yang mengatur bagi dirinya maupun keluarganya, sehingga diharapkan tidak akan melakukan pelanggaran-pelanggaran yang dapat merugikan dirinya, keluarga maupun Satuannya”, ujar Pakum Divisi 2 ditemui di sela-sela kegiatan.

Terkait dengan penggunaan media sosial yang sangat marak di era digital saat ini, tentunya Undang-Undang No. 11 TH 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dipandang sangat perlu untuk disampaikan dalam kegiatan penyuluhan hukum kali ini, agar supaya Prajurit dan Persit dapat menggunakan Medsos dengan tepat dan bijak, sehingga tidak menimbulkan suatu permasalahan hukum.

Selain pasal-pasal yang terkait dengan UU ITE, dijelaskan pula tentang asusila pasal 281 KUHP dan pasal 284, 285 KUHP serta di akhiri penyampaian tentang schorsing dan sanksi administratif bagi seorang prajurit yang melanggar. 

Penyuluhan Hukum berjalan dengan baik dan tertib serta penuh antusias hal ini terbukti dengan adanya berbagai pertanyaan yang disampaikan oleh anggota, serta terciptanya dialog yang bersifat membangun dan positif dalam meningkatkan wawasan dan pengetahuan  tentang hukum. (*)

Pendivif2,
Editor: A2W

Danrem 142/Tatag paparan penanggulangan bencana alam gempa bumi di Prov. Sulbar



JAKARTA -  Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat risiko bencana alam yang tertinggi di dunia (high risk disaster country). Kondisi geologis, geomorfologis, dan iklim tropis berdampak pada munculnya ancaman bencana alam dari banjir, erosi, angin puting beliung, letusan gunung berapi, gempa vulkanik, tsunami, kebakaran hutan, kecelakaan transportasi, sampai dengan kegagalan teknologi.
Memperhatikan kerawanan dan dampak dari bencana alam tersebut membuat TNI merasa berkewajiban untuk berperan aktif dalam penanggulangan bencana alam, sebagaimana tertuang dalam amanat UU Nomor 34/2004 tentang TNI khususnya pasal 7 ayat (2) b yakni membantu dan menanggulangi akibat bencana alam, pengungsian, dan pemberian bantuan kemanusiaan. Ini merupakan bagian dari tugas Operasi Militer Selain Perang (OMSP) TNI, menindaklanjuti kompleksitas masalah yang terjadi Staf Ahli (Sahli) Kasad Bidang Bantuan Kemanusiaan di bawah pimpinan Pa Sahli Tk III Mayjen TNI Kustanto Widiatmoko, M.D.A. dan Pa Sahli Tk II Kasad Bidang Banusia Brigjen TNI Gathut Setyo Utomo, S.I.P. menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD), bertempat di Aula Dharmagati Ksatria Jaya Pusbekangad, Kramat Jati, Jakarta Timur (16/06/2021).

Kegiatan FGD kali ini melibatkan Kemendagri (Direktorat Manajemen), Kemensos (Ditjen Perlindungan dan Jaminan Sosial), BNPB, Staf Umum AD, Balakpus, Kotama jajaran TNI AD (Kodam VI/Mlw, Kodam XIV/Hsn, dan Korem 142/Tatag), Mahasiswa Pascasarjana Manajemen Bencana Unhan, Artha Graha Peduli, dan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, tentu dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dalam rangka turut serta memutus mata rantai penyebaran Covid-19. 

Bertindak selaku narasumber adalah Danrem 142/Tatag Brigjen TNI Firman Dahlan, S.I.P. dengan materi berjudul “Penanggulangan Bencana Alam Gempa Bumi di Provinsi Sulbar,” Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB, Bapak Jarwansah, S.Pd, M.M. mengambil judul “Meningkatkan Koordinasi Pemberian Bantuan Kemanusiaan dalam Penanggulangan Bencana Antar-Pemangku Kepentingan”, dan Ketua Umum Artha Graha Peduli Bapak Heka Hertanto dengan judul “Peran Sipil dalam Mendukung Tugas TNI AD”. 

Koorsahli Kasad, Letjen TNI Wisnoe P.B dalam sambutan pembukaan FGD antara lain mengatakan “Dalam rangka tugas OMSP itulah TNI terlibat di berbagai penanggulangan bencana di seluruh wilayah tanah air. 

Awal Januari 2021  lalu misalnya, ketika terjadi bencana tanah longsor di Sumedang Jabar, gempa bumi di Mamuju Sulbar, dan banjir bandang di Kalsel, pada tahap awal banyak pihak yang tergerak hatinya membantu warga terdampak bencana mempercayakan penyaluran bantuan kemanusiaan mereka ke pihak TNI. Respon cepat dan tepat termasuk dalam pengiriman dan penyaluran bantuan utamanya pada periode awal bencana inilah yang membutuhkan perencanaan, koordinasi, dan juga sinergi yang baik antara TNI dengan penanggung jawab utama penyelenggaraan penanggulangan bencana di wilayah tersebut.”

“Sinergi Satuan Komando Kewilayahan TNI AD dengan Pemerintah Daerah, lanjut Wisnoe dalam penanggulangan bencana sudah berlangsung dengan relatif baik selama ini. Kendati demikian, disadari hal itu dilakukan di tengah masa terbatasnya kemampuan dan kekuatan Satkowil, baik dari aspek SDM, alutsista, sarana prasarana, maupun peranti lunaknya. Sementara medan wilayah yang dihadapinya beragam dan tidak selalu mudah dihadapi.” 

“Keterbatasan ini pada gilirannya berpengaruh terhadap kegiatan penyaluran terhadap kegiatan penyaluran bantuan kemanusiaan yang dituntut terlaksana dengan efektif dan efisien, agar warga terdampak bencana segera dapat merasakan manfaat dari bantuan yang diterimanya. Sebaliknya, ungkap Wisnu pelaksanaan bantuan yang kurang baik, berisiko memunculkan permasalahan sosial, berupa konflik antaranggota masyarakat penerima bantuan, maupun antara penerima dengan pengelola bantuan. 

Dalam kaitan itulah, kemampuan pengelolaan bantuan kemanusiaan Satkowil perlu diperkuat, agar dapat menyelaraskan diri dengan tantangan dan kebutuhan di era saat ini yang tidak hanya menuntut ketepatan dan kecepatan, tetapi juga tranparansi dalam pertanggungjawabannya ”, jelasnya. 

Rangkaian FGD diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan penyampaikan materi diskusi oleh 3 narasumber. Secara antusias di bawah moderator Tysa Noveni (presenter TV One), para peserta mengajukan beberapa pertanyaan dan tanggapan kritis terkait 3 bahasan utama kepada para narasumber yang dihadirkan khusus oleh penyelenggara.

Penyelenggaraan FGD menyangkut perkuatan Satkowil  guna mendukung bantuan kemanusiaan dalam rangka penanggulangan bencana mendapatkan atensi khusus dan dukungan penuh dari segenap elemen yang termasuk dalam pemangku kewenangan dalam penanggulangan bencana, berupa upaya mencari solusi terbaik dalam mengembangkan sinergi Satkowil TNI AD dengan Pemda dan unsur terkait. 

Bantuan kemanusiaan dimaksudkan untuk menyelamatkan nyawa, meringankan penderitaan dan menjaga martabat manusia selama dan setelah krisis dan bencana yang  disebabkan oleh bahaya alam serta untuk mencegah dan memperkuat kesiapsiagaan ketika situasi seperti itu terjadi. 

Pada intinya, dicapai kata sepakat bahwa sampai saat ini kompleksitas masalah dalam penanganan pemberian bantuan kemanusiaan antara lain menyangkut masih terjadinya penjarahan bantuan sebagai dampak bantuan yang tidak merata; lokasi terisolir, sebagian bantuan tidak terkoordinasikan karena update data keluar masuk bantuan tidak tersedia, bantuan yang terpusat pada satu lokasi, bantuan kurang tepat guna. 

Kondisi di atas menuntut perlunya segera dibangun sistem dan sinergi penyempurnaan  manajemen bantuan kemanusiaan antara lain dengan upaya optimalisasi Posko PDB saat darurat bencana, perlunya Nota Kesepahaman (MoU) dengan berbagai pihat terkait dengan bantuan kemanusiaan, koordinasi dengan K/L atau instansi lain saat tidak terjadi bencana, pengawalan bantuan oleh TNI/Polri ketika penyaluran bantuan kemanusiaan, dan perlunya optimalisasi peran kluster nasional penanggulangan bencana. 

Yang saat ini dikembangkan adalah sinergi multisektor  yang lebih dikenal dengan sebutan Pentahelix Governance, yakni (1) Pemerintah (regulator), (2) Akademisi/Pakar (konsep dan inovasi), (3) Dunia usaha (pendorong), (4) Media massa (penguat/amplifier), dan (5) Masyarakat (akselerator). Pembuatan peranti lunak berupa sinergi satuan terkait dari K/L dan TNI Polri menjadi tuntutan segera, dukungan anggaran dapat diselesaikan dengan mengutamakan bantuan kemanusiaan dan keselamatan jiwa mereka yang terdampak bencana, dan secara internal TNI/Polri, K/L terkait menyiapkan dengan manajemen penanggulangan bencana melalui pelatihan, peningkatan sarpras, peralatan, dan membangun sistem yang tepat guna tanpa meninggalkan akuntabilitas program tersebut.

Hadir dalam acara FGD tersebut Koorsahli Kasad Letjen TNI Wisnoe P.B., para narasumber, Ir Itjenad, Waaster Kasad, Para Paban Staf Umum AD, Para Perwira yang mewakili Sat Balakpus, Para Pa Sahli Tk III Kasad dan Pa Sahli Tk II Kasad, Paban Sahli Kasad, serta tamu undangan lainnya. 

Acara diakhiri dengan penyerahan cendera mata dari Koorsahli Kasad, Letnan Jenderal TNI Wisnoe P.B kepada ketiga narasumber dan moderator, dan dengan menyanyikan bersama lagu “Bagimu Negeri”, serta foto bersama, maka berakhir pula seluruh rangkaian FGD yang diselenggarakan oleh Sahli Kasad Bidang Bantuan Kemanusiaan. (AH)

Editor: A2W

Apel Kesiapsiagaan, Danyon C Cek Kesiapan Personel Dan Peralatan



WATAMPONE -  Tugas pokok Satuan Brigade Mobil (Brimob) adalah melaksanakan dan mengerahkan kekuatan Brimob Polri guna  menanggulangi gangguan kamtibmas berkadar tinggi, utamanya kerusuhan massa, kejahatan berorganisir bersenjata api, bom, bahan kimia, biologi dan radiokatif bersama dengan unsur pelaksana operasional kepolisian lainnya guna mewujudkan tertib hukum serta ketentraman masyarakat diseluruh yuridis Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ) dan tugas tugas lain yang dibebankan padanya. 
Untuk itu dibutuhkan kesiapan dari Satuan Brimob baik itu personel maupun peralatan pendukung dalam setiap pelaksanaan tugas.

Hari Rabu (16/06/2021) Batalyon C Pelopor melaksanakan apel kesiapsiagaan dengan menggelar seluruh peralatan dinas baik itu persenjataan, kendaraan maupun peralatan khusus lainnya guna menghadapi tugas yang akan datang.

Saat ditemui sesaat setelah memimpin apel, Komandan Batalyon (Danyon) C Pelopor Kompol Nur Ichsan, S.Sos mengatakan hari ini kita cek kesiapan operasional seluruh peralatan dinas yang dimiliki Batalyon C Pelopor sehingga benar benar siap digunakan sewaktu waktu.

" Jadi hari ini kita laksanakan apel kesiapsiagaan untuk mengecek sejauh mana kesiapan peralatan maupun  personel beserta perlengkapan pribadinya sehingga apabila sewaktu - waktu dibutuhkan siap untuk bergerak, ini semua sebagai wujud bhakti Brimob untuk masyarakat," ujar Kompol Ichsan

"Alhamdulillah dalam pengecekan hari ini tidak ditemukan kendala yang berarti baik itu dari kendaraan, peralatan dan perlengkapan pribadi anggota, dengan kata lain Batalyon C Pelopor siap melaksanakan tugas kapanpun dan dimanapun ditugaskan," tambah Danyon yang akrab dengan panggilan Danyon Tindizzz ini.

Pelaksanaan apel kesiapsiagaan ini dirangkaikan penutupan pembinaan tradisi / orientasi tugas bagi personel Bintara remaja yakni dengan pemasangan baret Brimob oleh Danyon C Pelopor sebagai tanda bahwa mereka siap bertugas sesuai tugas pokok Brimob. (Red)

Editor: A2W