Iklan

Iklan

,

Iklan

GESER KE HILIRISASI, PEMKAB SELAYAR GANDENG UNHAS KAJI PEMBANGUNAN INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA

Selasa, 25 Agustus 2026, Agustus 25, 2026 WIB Last Updated 2026-08-25T08:11:37Z


Siapkan Lahan 10 Hektar di AGROPENA Bungaiya, Bupati: "Kelapa Selayar Harus Beri Nilai Ekonomi Maksimal"


KEPULAUAN SELAYAR, SUARATIPIKOR.COM — Bupati Kepulauan Selayar, H. Muhammad Natsir Ali mulai menggeser arah pengelolaan komoditas kelapa. Dari semula hanya berupa perdagangan bahan mentah, kini diarahkan menuju industri pengolahan bernilai tambah.


Langkah strategis itu ditandai dengan penandatanganan kerja sama Pemkab Selayar dengan *Universitas Hasanuddin / UNHAS* untuk menyusun *Feasibility Study / FS* pembangunan industri pengolahan kelapa, Jumat (22/8/2026).


HILIRISASI JADI KUNCI KESEJAHTERAAN PETANI

Bupati Natsir Ali menegaskan, hilirisasi menjadi langkah penting agar potensi kelapa tidak terus keluar dari Selayar tanpa memberikan dampak ekonomi maksimal bagi daerah.


"Kita tidak ingin kekayaan kelapa hanya meninggalkan daerah dalam bentuk bahan mentah. Kelapa harus diolah, diberi nilai tambah, dan menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat serta meningkatkan pendapatan daerah," tegasnya.


Menurutnya, setiap kelapa yang tumbuh di Selayar harus mampu menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar bagi petani, pelaku usaha, tenaga kerja, dan pemerintah daerah.


TIM UNHAS TINJAU LOKASI DI AGROPENA BUNGAIYA

Langkah tersebut telah memasuki tahap teknis. Tim penyusun FS dari UNHAS turun langsung melakukan koordinasi dengan Pemkab Selayar hingga meninjau kawasan *AGROPENA* di Desa Bungaiya, Kecamatan Bontomatene, Kabupaten Kepulauan Selayar.


Di lokasi tersebut, tim mengkaji sejumlah faktor penentu kelayakan industri. Mulai dari kondisi dan luas lahan, ketersediaan air baku, jarak permukiman, hingga aksesibilitas menuju Pelabuhan Pamatata.


Pemkab Selayar telah menyiapkan opsi lahan seluas 10 hektare. Namun berdasarkan kajian awal, Tim UNHAS menilai kebutuhan untuk tahap pertama cukup 5 hektare. Sisa lahan disiapkan sebagai ruang pengembangan pada tahap berikutnya.


JADI DOKUMEN DASAR TARIK INVESTOR

Bagi Natsir Ali, kesiapan lahan merupakan pondasi awal. Tahap berikutnya adalah memastikan industri yang dibangun benar-benar layak secara regulasi, teknis, sosial, lingkungan, serta finansial dan ekonomi.


FS dari UNHAS juga disiapkan sebagai dokumen dasar untuk membuka pembicaraan investasi. Salah satunya dengan calon investor industri kelapa asal India yang dijadwalkan melakukan kunjungan ke UNHAS. 


Kajian tersebut akan menjadi pijakan dalam menentukan skala industri, termasuk kapasitas pengolahan kelapa per hari.


DIDUKUNG PROGRAM GEMERLAP

Natsir Ali menyebut, pembangunan industri kelapa membutuhkan kolaborasi antara akademisi, investor, masyarakat, dan pemerintah.


"Pemerintah harus memastikan potensi komoditas tidak berhenti pada produksi, tetapi berlanjut menjadi industri dan lapangan kerja baru," ujarnya.


Upaya itu diperkuat melalui Program GEMERLAP sebagai investasi jangka panjang untuk menjamin ketersediaan bahan baku.


"Industri yang dibangun hari ini bukan sekadar bangunan dan mesin. Kita ingin membangun warisan ekonomi yang dapat dirasakan generasi Selayar mendatang," pungkas Bupati.


Laporan: Supardi: Supardi


Iklan