Iklan

Iklan

,

Iklan

"THE BLACK GOLD OF SELAYAR": BRIKET BATOK KELAPA DORONG SELAYAR MENEMBUS PASAR GLOBAL

Jumat, 28 Agustus 2026, Agustus 28, 2026 WIB Last Updated 2026-08-28T11:57:25Z
Supardi


KEP. SELAYAR, SUARATIPIKOR.COM - Limbah yang dulu dianggap tak bernilai kini menjelma jadi komoditas primadona. Briket arang batok kelapa asal Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, mulai dilirik pasar dunia karena kualitasnya yang stabil, minim abu, dan ramah lingkungan.


Tak hanya jadi favorit di Timur Tengah untuk kebutuhan shisha, pasar briket asal Indonesia kini telah merambah Amerika, Australia, Eropa, hingga Asia. Nilai tambahnya pun jauh melampaui penjualan kelapa bulat biasa. Pengolahan tempurung menjadi briket dan karbon aktif terbukti mampu mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD).


Dari "Emas Hijau" ke "Emas Hitam"

Selayar sejak lama dikenal sebagai salah satu lumbung kopra nasional. Kejayaan kelapa daerah ini bahkan pernah dijuluki _"The Green Gold of Selayar" oleh pemerhati budaya asal Belanda, Christiaan Heersink.


Kini, seiring hilirisasi, sebutan itu berganti. 

"Jika dulu disebut 'Emas Hijau dari Selayar', maka sekarang saatnya kita menyebutnya 'Emas Hitam dari Selayar'," tegas Ketua Selayar Creative Hub (SCH) sekaligus Ketua Peduli Selayar Community (PIS.Com), Supardi Idris, saat ditemui di kediamannya, Jl. Hati Mulia No. 7, Benteng, Jumat (28/8/2026).


Menurutnya, batok kelapa yang dahulu dibuang, kini menjadi bahan bakar alternatif pengganti gas dan incaran pasar ekspor.


"Selayar sudah lama mengirim pasokan kelapa ke Surabaya, Manado, Ambon, bahkan diekspor ke India. Tapi baru beberapa tahun terakhir masyarakat sadar, tempurung ini punya nilai luar biasa. Kalau diolah secara modern, kualitasnya unggul dan diminati mancanegara," ujarnya.


Sinergi dengan Program GEMERLAP


Supardi menegaskan, tumbuhnya industri pengolahan briket sangat sejalan dengan program prioritas Pemkab Kepulauan Selayar, yakni *GEMERLAP*.


Ia merinci dampaknya dalam 2 skala:

1. Skala Makro  

Mendorong diversifikasi ekspor dan memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen utama produk turunan kelapa bernilai tinggi.


2. Skala Mikro  

Membuka lapangan kerja baru, menyerap tenaga kerja lokal, dan memicu transfer teknologi berbasis kearifan lokal.


"Dengan dukungan kebijakan hilirisasi pemerintah, kesiapan pelaku industri, dan tren permintaan global terhadap produk ramah lingkungan yang terus naik, prospek komoditas ini sangat cerah," pungkas Supardi.


Potensi Selayar sebagai penghasil kelapa memang sudah terbukti. Kini tinggal bagaimana "Emas Hitam" ini dikelola maksimal agar benar-benar menjadi mesin penggerak ekonomi baru dari desa hingga nasional. (*) 


Laporan: Ito

Iklan