KRP. SELAYAR, SUARATIPIKOR.COM - Pemerintah Kecamatan Pasilambena, Kabupaten Kepulauan Selayar terus memacu pengembangan sektor pertanian, khususnya komoditas jagung, sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat kepulauan.
Camat Pasilambena, Andi Irwan, S.Pd., mengatakan pihaknya telah membangun kolaborasi lintas sektor untuk mengatasi kendala klasik yang dihadapi petani: mulai dari permodalan, sarana produksi, hingga pemasaran.
"Kami tidak ingin petani jalan sendiri. Kita bangun ekosistemnya," ujar Andi Irwan.
Tiga kolaborasi strategis yang sedang dijalankan:
1. Permodalan: Bekerja sama dengan perbankan untuk memfasilitasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi petani. Dana ini diharapkan mampu membantu kebutuhan dasar seperti biaya pagar lahan, pembelian pestisida, hingga kebutuhan penunjang lainnya.
2. Sarana Produksi: Gandeng PT. BISI Internasional (Bisi) untuk penyediaan benih unggul, pupuk, dan pestisida yang berkualitas.
3. Jaminan Pasar: Bermitra dengan PT. Charoen Pokphand Indonesia untuk memastikan hasil panen jagung petani terserap pasar dengan harga yang layak.
Langkah ini sejalan dengan program Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar yang fokus pada hilirisasi kelapa, budidaya jagung, dan gerakan menanam jagung sebagai strategi ketahanan pangan. Di Pasilambena sendiri, hasil panen jagung telah mencapai ratusan ton.
Optimalisasi 15.750 Hektare Lahan di Selayar
Selain kolaborasi, Kecamatan Pasilambena juga memperkuat program optimasi lahan (Oplah). Fokusnya adalah pemanfaatan lahan non-rawa dan lahan tidur untuk meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dan produktivitas.
Berdasarkan pemetaan awal Pemkab, potensi lahan pertanian/perkebunan di 11 kecamatan di Selayar mencapai *15.750 hektare*, dengan rincian:
Pasimarannu 1.000 ha, Pasilambena 1.000 ha, Pasimasunggu 1.500 ha, Pasitallu Timur 2.000 ha, Takabonerate 500 ha, Bontomatene 1.500 ha, Buki 1.500 ha, Bontomanai 1.500 ha, Benteng 750 ha, Bontoharu 2.500 ha, dan Bontosikuyu 2.500 ha.
Komoditas yang dikembangkan sangat beragam, mulai dari hortikultura (kacang panjang, wortel, timun, tomat, cabe, bawang merah/putih, kentang, terong), pangan (jagung manis, jagung kuning, padi, kacang hijau), hingga perkebunan (pisang, coklat, kelapa, sawit).
Untuk tahap awal hingga 2028, 6 kecamatan dinilai paling potensial untuk fokus jagung dengan total *6.000 ha*: Pasimasunggu, Pasitallu Timur, Pasilambena, Bontoharu, Bontomanai, dan Bontosikuyu.
Potensi Ratusan Miliar, Kenapa Petani Masih Mengeluh?
Andi Irwan memaparkan hitungan potensi ekonomi yang sangat besar. Jika saja 6.000 hektare ditanami jagung dengan produktivitas terendah 8 ton/ha, harga Rp 4.000/kg, dan 2 musim tanam:
8.000 kg x 6.000 ha x Rp 4.000 x 2 musim = Rp 384 Miliar
Belum termasuk padi di Jampea (Pasimasunggu). Dengan 2.000 ha x 8 ton x Rp 5.500 = *Rp 176 Miliar* per tahun.
"Faktanya, di Jampea dan Kalaotoa (Pasilambena), 40% masyarakat seharusnya sudah punya pendapatan bersih minimal Rp 150 juta/tahun. Tapi kenapa masih banyak yang berutang dan ekonominya rendah?" tanya Andi Irwan.
Menurutnya, akar masalahnya ada pada lima hal:
1. *Market* - akses pasar tidak pasti
2. Kualitas - hasil panen belum standar industri
3. Kontinuitas - panen tidak berkelanjutan
4. Akseptabilitas - belum memenuhi selera pasar besar
5. Permodalan - dan yang paling mendasar adalah mentalitas.
"Masyarakat terlalu tergantung bantuan dan terlalu takut rugi sebelum mencoba. Mereka butuh contoh nyata yang berhasil," tegasnya.
Ia mencontohkan usaha yang kini menjamur di Selayar seperti budidaya bunga Telang, depot, warkop, laundry, dan makanan siap saji yang tumbuh karena ada contoh yang berhasil.
Ke depan, Pemkab Selayar akan terus memetakan sektor pertanian dan perkebunan secara bertahap hingga 2028, termasuk berkolaborasi antar-kecamatan untuk pemanfaatan lahan kosong.
Laporan: Supardi
