Membongkar Paradoks Kekayaan Laut, Daya Beli dan Stunting di Selayar.
SAYA tertarik membaca gagasan Muhammad Arsyad tentang Selayar Blue Nutrition. Gagasannya sederhana, tetapi menurut saya sangat penting : kekayaan laut Selayar jangan hanya dipandang sebagai sumber ikan dan sumber pendapatan, tetapi juga harus menjadi sumber gizi bagi masyarakat, terutama bagi anak-anak.
Saya setuju, Selayar adlah daerah kepulauan. Laut adalah bagian dari kehidupan kita. berbicara ttg Ikan, naka bukan barang baru dan asing bagi masyarakat Selayar. Bahkan bagi sebagian masyarakat, ikan adalah makanan sehari-hari sekaligus sumber penghidupan.
Tetapi, satu pertanyaan sederhana yang menurut saya perlu kita ajukan :
Ikan memang ada. Tetapi apakah gizi itu selalu mampu terbeli?
Pertanyaan yg kelihatan sederhana. Tetapi kalau kita mau melihat persoalan stunting secara lebih dekat, pertanyaan ini justru bisa membuka persoalan yang lebih besar.
Masalahnya bukan selalu orang tua tidak tahu, mereka faham gizi.
Bayangkan seorang ibu datang ke Posyandu.
Anaknya ditimbang dan diukur. Kemudian ia mendapatkan penjelasan bahwa anak itu butuh makanan bergizi, protein hewani, ikan, telur, sayur, buah dan makanan beragam.
Ibu itu lalu mengangguk tanda faham sosialisasi dari petugas yankes.
Ia sebenarnya tahu.
Ia juga tahu ikan itu bagus untuk anak.
Ia tahu telur itu bergizi.
Ia tahu anak tidak boleh hanya makan nasi dan makanan seadanya.
Tetapi setelah pulang ke rumah, muncul pertanyaan yang jauh lebih nyata:
“Besok saya punya uang untuk membeli ikan atau tidak?”
Di sinilah persoalannya.
Kadang-kadang masalahnya bukan karena orang tua tidak tahu.
Mereka tahu, tetapi mereka tidak mampu.
Dan menurut saya, inilah salah satu bagian penting yang perlu kita masukkan dalam pembicaraan tentang Blue Nutrition dan penanganan stunting di Selayar.
Ikan di laut, tetapi uang ada di mana?
Kita sering mengatakan Selayar kaya ikan. Itu benar.
Tetapi kekayaan sumber daya alam tidak otomatis berarti setiap keluarga memiliki kemampuan ekonomi yang baik.
Ikan yang berada di laut adalah kekayaan alam.
Ikan yang masuk ke pasar adalah komoditas.
Tetapi ikan yang sampai ke piring anak adalah persoalan lain.
Di antara laut dan piring anak terdapat banyak mata rantai :
nelayan, biaya melaut, bahan bakar, alat tangkap, pedagang, transportasi, pasar, harga, pendapatan keluarga dan daya beli.
Karena itu, kalau kita ingin menjadikan ikan sebagai kekuatan untuk memperbaiki gizi anak, kita tidak cukup hanya bertanya:
“Apakah ikan tersedia?”
Kita juga harus bertanya:
“Apakah keluarga mampu membelinya?”
Bahkan pertanyaan berikutnya lebih penting adalah “Apakah keluarga mampu membelinya secara rutin?”
Sebab anak tidak tumbuh hanya dengan makanan bergizi sekali-sekali atau sekali dalam sepekan.....
Inilah jarak antara konsep dan kenyataan.
Di atas kertas, persoalannya tampak sederhana.
Anak kurang gizi, berikan makanan bergizi, maka pertumbuhan membaik.
Tetapi kehidupan keluarga tidak sesederhana itu.
Satu keluarga mungkin harus membayar beras, listrik, air, kebutuhan sekolah anak, transportasi, obat-obatan, kebutuhan rumah tangga dan berbagai kebutuhan lainnya.
Kalau pendapatan terbatas, keluarga harus memilih alternatif.....
Dan dalam keadaan tertentu, pilihan makanan bukan lagi berdasarkan :
“Mana yang paling bergizi?”
Tetapi:
“Mana yang paling mampu kami beli hari ini?” murah dan bisa kenyang... Gizi itu soal nanti......
Ini bukan berarti orang tua tidak peduli terhadap gizi anaknya.
Justru sebaliknya.
Banyak orang tua sangat ingin memberikan makanan terbaik kepada anaknya.
Tetapi keinginan dan kemampuan adalah dua hal yang berbeda.
Karena itu, jangan sampai kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa masalah gizi semata-mata disebabkan oleh kurangnya pengetahuan orang tua.
Kadang yang kurang bukan pengetahuan. YG KURANG ADALAH DAYA BELI DAN KEMAPUAN EKONOMI...
Stunting memang bukan hanya masalah kemiskinan
Di sini kita harus hati-hati.
Tidak tepat mengatakan bahwa semua anak stunting berasal dari keluarga miskin.
Stunting adalah persoalan yang kompleks.
Ada persoalan pola makan, kesehatan ibu dan anak, infeksi, sanitasi, air bersih, pengasuhan, pendidikan, lingkungan dan berbagai faktor lainnya.
Tetapi kompleksitas tersebut tidak berarti faktor ekonomi boleh kita abaikan.
Kemampuan ekonomi keluarga sangat menentukan kemampuan sebuah keluarga untuk mengubah pengetahuan menjadi tindakan.
Kita bisa mengajarkan seorang ibu bahwa anak membutuhkan protein hewani.
Tetapi kalau pendapatan keluarga tidak cukup, pengetahuan itu hanya teori, belum tentu bisa diwujudkan dalam menu sehari-hari.
Di sinilah menurut saya pendekatan penanganan stunting perlu diperluas.
Jangan hanya bertanya apa yang harus dimakan anak.
Kita juga harus bertanya:
“Mengapa keluarga tidak mampu menyediakan makanan tersebut secara rutin?”
Jangan hanya mengajarkan orang miskin bagaimana makan bergizi..... !!!!
Kalimat ini mungkin terdengar keras, tapi perlu kita renungkan.
Jangan hanya mengajari keluarga miskin ttg bagaimana makan bergizi. Pikirkan juga bagaimana membuat mereka mampu membeli makanan bergizi.!!!
Kalau ikan menjadi salah satu sumber protein terbaik yang tersedia di Selayar, maka kebijakan kita harus memikirkan dua hal sekaligus :
bagaimana ikan lebih mudah dikonsumsi masyarakat, dan bagaimana masyarakat memiliki kemampuan ekonomi untuk membelinya.
Ini membawa kita pada satu rantai pembangunan yang lebih lengkap :
Laut, ada Ikan, adapt Nilai Ekonomi, Pendapatan Keluarga ada, lalu Daya Beli, akibatnya : Akses Pangan baik, Konsumsi bisaac dibeli, Gizi akan okay, rakyat sehat, menuju Kualitas SDM yg maju.
Inilah yang menurut saya perlu ditambahkan ke dalam gagasan Selayar Blue Nutrition.
Jangan sampai laut kita kaya, tetapi keluarga kita tetap kekurangan pangan...
Ada paradoks yang menarik di daerah kepulauan.
Kita mempunyai laut.
Kita mempunyai ikan.
Kita mempunyai nelayan.
Kita mempunyai pasar.
Tetapi kekayaan tersebut belum tentu sepenuhnya berubah menjadi kesejahteraan keluarga.
Ikan bisa keluar dari Selayar dalam jumlah besar.
Tetapi apakah nilai tambahnya tinggal di Selayar?
Apakah pendapatan nelayan meningkat?
Apakah keluarga nelayan semakin sejahtera?
Apakah harga ikan yang bergizi tetap terjangkau bagi keluarga berpendapatan rendah?
Apakah anak-anak keluarga nelayan sendiri memperoleh manfaat gizi yang optimal dari kekayaan laut yang menjadi sumber kehidupan orang tuanya?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menurut saya perlu dibicarakan lebih jauh.
Karena persoalan sesungguhnya bukan hanya: “Berapa banyak ikan yang kita miliki?”
Tetapi:
“Berapa banyak kekayaan ikan yang benar-benar berubah menjadi kesejahteraan keluarga Selayar?”
Dari Blue Nutrition menuju Blue Prosperity
Karena itu, saya tidak ingin mempertentangkan gagasan Blue Nutrition dengan persoalan ekonomi.
Justru saya ingin memperluasnya.
Blue Nutrition dapat menjadi lebih kuat jika ditempatkan dalam kerangka yang lebih besar:
Blue Economy → Blue Prosperity → Blue Nutrition → Human Capital.
Artinya, laut bukan hanya menghasilkan ikan.
Laut menghasilkan nilai ekonomi.
Nilai ekonomi menghasilkan pendapatan.
Pendapatan meningkatkan daya beli.
Daya beli meningkatkan kemampuan keluarga memperoleh makanan yang lebih baik.
Makanan yang lebih baik mendukung kesehatan dan pertumbuhan anak.
Dan anak-anak yang sehat adalah modal manusia bagi masa depan Selayar.
Di sinilah persoalan gizi bertemu dengan persoalan pembangunan.
Bagaimana kalau program stunting dimulai dari rumah tangga?
Mungkin kita perlu melakukan sesuatu yang sederhana tetapi lebih nyata.
Sebelum menentukan intervensi, kita lihat dulu keadaan keluarga.
Berapa pendapatannya?
Berapa pengeluaran untuk makanan?
Berapa harga ikan yang biasa dibeli?
Seberapa sering anak makan ikan?
Berapa kali anak mendapatkan protein hewani dalam seminggu?
Apakah keluarga memiliki air bersih?
Bagaimana sanitasi rumah?
Apakah ibu memiliki akses terhadap informasi kesehatan?
Apakah keluarga mempunyai sumber pendapatan yang stabil?
Dari situ kita bisa mengetahui bahwa keluarga A mungkin membutuhkan pendidikan gizi.
Keluarga B mungkin sebenarnya sudah sangat memahami gizi, tetapi membutuhkan akses pangan.
Keluarga C mungkin membutuhkan penguatan ekonomi.
Keluarga D mungkin menghadapi persoalan sanitasi dan air bersih.
Dengan demikian, kita tidak memberikan resep yang sama kepada semua keluarga.
Karena masalah yang berbeda membutuhkan jalan keluar yang berbeda.
Kita perlu mengukur bukan hanya anak, tetapi juga kemampuan keluarga
Selama ini kita terbiasa mengukur berat badan dan tinggi badan anak.
Itu penting.
Tetapi mungkin ada ukuran lain yang juga perlu kita perhatikan.
Berapa kemampuan ekonomi keluarga untuk menyediakan makanan bergizi bagi anak?
Kita bahkan bisa mengembangkan ukuran sederhana:
Indeks Keterjangkauan Gizi Keluarga
Misalnya, berapa persen pendapatan keluarga yang harus digunakan untuk menyediakan sumber protein yang layak bagi anak?
Kalau keluarga harus menghabiskan sebagian besar pendapatannya hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan bergizi, berarti persoalannya bukan sekadar pengetahuan.
Ada persoalan struktural. Dan kalau kita mengetahui persoalannya, kebijakan yang dibuat juga bisa lebih tepat.
Jangan berhenti pada bantuan
Bantuan makanan tetap penting, terutama untuk keluarga yang benar-benar membutuhkan.
Tetapi bantuan tidak boleh menjadi satu-satunya jawaban.
Karena tujuan akhirnya bukan membuat keluarga bergantung pada bantuan.
Tujuan akhirnya adalah membuat keluarga mampu memenuhi kebutuhan anak dengan kekuatannya sendiri.
Karena itu, penanganan stunting seharusnya bisa berjalan bersama dengan pemberdayaan ekonomi.
Nelayan perlu memperoleh nilai ekonomi yang lebih baik.
Ibu rumah tangga bisa diberi ruang mengembangkan usaha.
UMKM pangan lokal bisa diperkuat.
Hasil laut bisa diolah sehingga menghasilkan nilai tambah.
Pemerintah desa dapat melihat pangan dan ekonomi keluarga sebagai bagian dari pembangunan manusia.
Dengan demikian, kebijakan gizi tidak
berdiri sendiri.
Ia bertemu dengan kebijakan ekonomi.
Selayar 2045 harus dimulai dari sini
Kita sering berbicara tentang Selayar 2045.
Dua puluh tahun lebih ke depan mungkin terdengar sangat jauh.
Tetapi sebenarnya Selayar 2045 sedang dibentuk oleh anak-anak yang hari ini sedang tumbuh.
Kalau kita ingin membangun manusia Selayar yang kuat, sehat, cerdas dan produktif pada 2045, maka persoalannya bukan hanya bagaimana anak-anak itu mendapatkan pendidikan. Kita harus memastikan mereka tumbuh dengan baik sejak awal kehidupan.
Dan untuk itu, kita membutuhkan pendekatan yang lebih utuh.
Kekayaan alam harus menjadi kekuatan ekonomi.
Kekuatan ekonomi harus menjadi daya beli.
Daya beli harus menjadi akses pangan.
Pangan harus menjadi gizi.
Gizi harus menjadi kesehatan.
Kesehatan harus menjadi kualitas manusia.
Dan kualitas manusia itulah yang akhirnya menjadi kekuatan Selayar 2045.
Ikan ada, tetapi gizi tak terbeli
Karena itu, saya melihat gagasan Selayar Blue Nutrition sebagai pintu masuk yang sangat baik.
Tetapi pintu itu jangan berhenti di laut.
Kita harus membawanya masuk sampai ke rumah-rumah masyarakat.
Sebab ukuran keberhasilan bukan hanya berapa banyak ikan yang ada di laut.
Bukan pula berapa banyak seminar tentang gizi yang dilaksanakan.
Bukan hanya berapa banyak anak yang datang ke Posyandu.
Pertanyaan akhirnya adalah:
Apakah keluarga mampu menyediakan makanan bergizi bagi anaknya secara terus-menerus?
Kalau jawabannya belum, maka masih ada pekerjaan besar yang harus kita lakukan.
Selayar tidak cukup hanya memiliki laut yang kaya.
Selayar harus mampu mengubah kekayaan laut menjadi keluarga yang lebih sejahtera, anak yang lebih sehat dan manusia yang lebih kuat.
Maka mungkin sudah waktunya kita memperluas cara pandang:
Jangan hanya membawa ikan dari laut ke piring.
Bawa juga nilai ekonomi laut ke rumah tangga.
Sebab pada akhirnya, persoalannya bukan apakah ikan ada.
Ikan ada.
Persoalannya:
apakah gizi itu terbeli atau tidak ?
Dan di situlah pekerjaan besar pembangunan Selayar sesungguhnya dimulai.
JADI BICARA IKAN DAN GIZI ITU BUKAN TEORI SAJA......IKAN DAN GIZI BUTUH KEKUATAN EKONOMI....
