KEP. SELAYAR, SUARATIPIKOR.COM - Berkebun tidak harus memiliki lahan luas. Di tengah keterbatasan ruang kota, tren berkebun minimalis kini menjadi solusi untuk mendukung kemandirian pangan sekaligus menghijaukan lingkungan.
Hal itu dibuktikan H. Zukhri, S.Sos, Kepala Lingkungan Lango-lango, Kelurahan Benteng, Kecamatan Benteng, Kabupaten Kepulauan Selayar. Pria pensiunan ASN Dinas Pariwisata Selayar ini menyulap pekarangan kosong seluas 15 x 30 meter di samping rumahnya menjadi kebun minimalis produktif.
Di atas lahan terbatas itu, Zukhri menanam beragam jenis sayur, jagung, hingga buah-buahan. Aktivitas ini ia geluti sejak pensiun dari ASN.
Bagi Zukhri, berkebun sudah menjadi rutinitas harian. Lebih dari sekadar hobi, ia ingin memberi contoh nyata kepada warga.
"Kegiatan ini saya lakukan untuk memotivasi warga Lingkungan Lango-lango. Menghijaukan kota adalah bagian dari pelestarian lingkungan, dan kebun ini juga memberi manfaat langsung bagi warga sekitar," ujarnya.
Lebih jauh, Zukhri menyebut kebun kota binaannya sebagai destinasi wisata edukatif. Konsepnya memadukan pertanian modern dengan pengalaman interaktif bagi pengunjung.
"Di sini pengunjung bisa belajar mulai dari menanam sayur, merawat tanaman, hingga panen. Alhamdulillah, warga sudah menikmati hasilnya. Setidaknya ini bisa membantu perekonomian mereka," ungkapnya.
Hal senada disampaikan Ismawati, warga Lingkungan Lango-lango. Ia mengaku bersyukur sejak Zukhri menjabat sebagai kepala lingkungan.
"Kami sangat bersyukur dengan adanya kebun kota ini. Setiap kali panen, kami juga ikut menikmati hasilnya. Bahkan hasil penjualan kebun juga membantu ekonomi kami," tuturnya.
PUITIS: "PURNAMA DI KEBUN KOTA"
Budaya tidak harus di aula.
Seni tidak harus mahal.
Cukup duduk bersama,
tiup suling, tabuh gendang,
di bawah lampu dan langit terbuka.
Seni tradisi menyatu dengan alam.
Ini cara kita menjaga warisan leluhur,
sambil menghijaukan dan menghidupkan Kebun Kota.
Seni Tradisi + Alam + Purnama = Kebun Kota
Tidak butuh panggung megah.
Cukup hati yang tulus dan tanah yang subur,
terciptalah sebuah karya.
Laporan: Supardi

